Cerita: Dibalik Kata Masuk dan Akal

Mengenai aku, diriku, dan didalamku

Photo by Mia Baker on Unsplash

Kewajaran akan timbul oleh adanya kebiasaan. Aku ingin mengupas sedikit mengenai realita seorang manusia. Tidak ada landasan teori ataupun penelitian — hanya pikiran liar belaka.

Ide ini tidak begitu rumit, biarkan kujelaskan dengan sebuah contoh.

Sean (Aku) tumbuh dewasa melihat kesuksesan beberapa saudara ibunya yang dapat terlihat dari:

  1. Rumah mereka
  2. Gaya hidup mereka
  3. Tentu saja uang mereka

Ketiga hal ini mengarah pada satu pertanyaan, apa yang mereka lakukan? Apa pekerjaan mereka?

Semuanya tercermin dengan satu kata, entrepreneur. Aku mengetahui jika ketiga yang tadi mereka raih dengan menjadi seorang entrepreneur.

Atau bahasa yang lebih lengket denganku adalah seorang pengusaha.

Bayangkan, dan faktanya memang demikian:

  1. Para pengusaha inilah yang selalu mengundang keluarga besar Sean makan bersama
  2. Mengajak liburan di hotel atau resort tertentu (Seringkali ditanggung oleh mereka juga biayanya)
  3. Anggaplah begini — merekalah pusat keluarga besar seorang Sean

Kewajaran timbul dari kebiasaan. Apa yang telah terjadi berulangkali disini? Pengusaha, pengusaha, dan pengusaha.

Secara tidak sadar mulai tertanam ide bahwa orang yang berhasil adalah seorang pengusaha.

Jadi apa cita-citaku? Geli juga bagaimana sejak kecil aku sudah mengkorelasikan keberhasilan dengan banyaknya harta yang dimiliki, tetapi ya, begitulah cara pandangku waktu itu.

Mau jadi sukses? Berhasil? Maka jalan satu-satunya adalah menjadi seorang pengusaha.

Bagaimana tidak? Apa yang dilakukan oleh para pengusaha di keluarga besarku itu rutin setiap tahunnya.

Itulah kewajaran yang dimiliki oleh seorang Sean.

Bagaimana jika kita merubah cerita ini sedikit.

Begini, andaikan para pengusaha tadi adalah seorang dokter. Skenario apa yang paling mungkin terjadi? Aku sangat yakin jika kesuksesan akan memiliki arti menjadi seorang dokter, bukan pengusaha.

Ada apa gerangan sehingga aku menuliskan tentang ini?

“Selama kamu mengikuti ajaran seseorang, apakah kamu pernah mempertanyakan cara orang tersebut melakukannya? Adakah cara lebih baik?” - Anon

Hal paling relevan dengan pernyataan diatas tidak lain adalah bidang pekerjaan. Sangat wajar, karena kita bukan hidup di bumi yang penuh dengan peperangan fisik.

Tentu saja, tulisan ini bermula juga dari keresahanku pribadi.

Apakah segala sesuatu harus dilakukan sebagaimana orang yang mengajarkanku melakukannya. Play by the book. Ya, aku orang yang seperti itu.

Masalah yang timbul dari ini adalah perasaan tidak percaya diri akibat dari memandingkan apa yang aku lakukan dengan si pengajar/ mentor tersebut masih sejauh bumi dan langit.

Sedikit banyaknya aku sangat sadar jika perfeksionisme masih ada di dalam diri. Sebagian dari diriku menginginkan kebebasan dan berkeinginan mencoba begitu banyak hal — setengahnya lagi merasa takut untuk menjadi diri yang sebenarnya.

Ada banyak faktor disini. Aku tidak akan menyebutkannya satu per satu, yang terpenting adalah, apakah aku pernah mempertanyakan cara orang tersebut melakukannya?

Kalimat kutipan yang ada di atas sangat mengena, membacanya membuat satu pintu lagi terbuka untuk mengejar kebebasan.

… benar juga, mengapa aku berpikir jika jalan A adalah menuju keberhasilan?

Wajar bagiku jika kesuksesan adalah menjadi pengusaha, apakah orang lain yang berkeingan menjadi seorang dokter tidak akan memperoleh kesuksesan finansial?

Peperangan dengan pikiran is a tricky one.

Aku sering menemukan semangatku habis hanya karena berpikir — ya, sebegitu besar pengaruh pikiran dalam kehidupan seseorang.

“Everything around you that you call life was made up by people that were no smarter than you. And you can change it, you can influence it… Once you learn that, you’ll never be the same again.” — Steve Jobs

Akan menjadi permainan yang berbeda jika kita bisa sadar jika apa yang ada sekarang tidaklah baku, segalanya berubah.

Artinya apa? We make our own game. Kita membuat permainan kita sendiri.

Aku sangat yakin dengan cara berpikir seperti ini kita akan lebih mungkin untuk menciptakan hal baru dan meraih keberhasilan.

Hanya oleh karena satu alasan, kepercayaan diri terhadap apa yang kita lakukan.

Percaya tidak percaya, aku mempelajari dari pengalaman pribadi jika orang yang tidak punya kepercayaan diri terhadap apa yang dilakukannya — 100% akan gagal.

Entah kamu seorang entrepreneur yang sedang merintis bisnis, atapun pekerja kantoran dari Senin sampai Sabtu. Aturannya sama, tidak ada kepercayaan diri berarti kegagalan.

Sekarang begini, apa yang terjadi ketika kewajaranku bukan menjadi seorang pengusaha? Kewajaran tadi menjadi apa? Kewajaran tadi sudah berubah menjadi menjadi aku sendiri.

Identitasku sebagai seorang yang berhasil tidak terletak pada pekerjaanku. Identitas keberhasilanku adalah aku sendiri.

Aku menjadi tidak berpikir jika mencapai keberhasilan berarti menjadi seorang pengusaha di bidang agribisnis (Keluargaku sebagian bergerak di agribisnis).

Pikiranku menjadi lebih terbuka akan kesempatan-kesempatan lain yang ada.

Aku bisa melakukan sesukaku dengan hidupku! Mencoba banyak hal, terkadang berhasil dan di lain waktu juga gagal.

Itulah identitas Sean sebagai Sean. Aku sebagai aku.

Intisari dari tulisan ini tidak begitu rumit, kamu bukanlah orang tuamu, kamu juga bukan mentormu, tetapi kamu adalah kamu.

Milikilah pendirian diatas dasar diri sendiri. Bangunlah rasa percaya diri untuk melakukan apa yang kamu lakukan dengan bersemangat setiap hari.

Karena kamu bisa mengubah segala sesuatu. Dan memang, perubahan terjadi karena seseorang meruntuhkan status quo yang ada. Mungkin… perubahan pada hal tertentu akan dimulai dari kamu.

Jangan pernah berhenti untuk berpikir dan bertindak berbeda.

Satu goal di tahun 2021 ini sudah tercapai.

--

--

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store