Cerita: Kurang Yakin Tentang Segalanya

Less sure about everything

Photo by Adam Nieścioruk on Unsplash

Sampai saat ini aku masih merasa seperti itu. Kok kelihatannya tidak ada yang pasti?

Ketakutan terbesarku masih sama sejak dahulu, hidupku mau ngapain dan diapain?

Concern yang paling relevan adalah menjadi mandiri. Artinya, bertanggung jawab untuk diri sendiri.

Tentu saja, ada unsur uang di dalam sana.

Berbicara mengenai penghasilan, aku hanya bisa menemukan 2 jawaban.

Pertama, bekerja sebagai seorang karyawan.

Kedua, menjadi seorang entrepreneur.

Nggak ada yang begitu keren dari keduanya. Aku hanya ingin membicarakan realita saja.

Kalau kita bekerja sebagai seorang karyawan dari sebuah perusahaan, penghasilan kita tergolong tetap. Setiap bulan mendapatkan pemasukan dengan nominal yang sama dengan bulan sebelumnya.

Kamu nggak perlu mikirkan begitu banyak hal mengenai pengeluaran perusahaan kamu. Paling banyak mungkin mengatur kebutuhan diri sendiri. Entah itu tentang kebutuhan pokok, bayar listrik, pajak, dan apapun itu.

Bekerja di sebuah perusahaan yang kecil membuatku sadar akan banyak hal. Ternyata kalau menjadi seorang pemilik/ sang entrepreneur — yang harus ditanggung itu lebih banyak.

Gaji pegawai setiap bulan, pembayaran pajak perusahaan, pengeluaran untuk listrik dan lainnya, masih banyak lagi.

Katakan jika kamu seorang karyawan, maka tanggunganmu adalah dirimu dan keluargamu sendiri.

Seorang entrepreneur selain menanggung dirinya dan keluarganya, ia ketambahan menanggung perusahaannya. Dengan catatan, penghasilan usaha untuk setiap bulannya tidaklah pasti.

Katakan sebagai seorang karyawan kamu berpenghasilan 5 juta setiap bulan. Dari sana kamu sudah bisa menghitung pengeluaran tanpa ada resiko. Kenapa? Karena kamu pasti memperoleh 5 juta sebulan.

Sekarang bayangkan menjadi seorang pemilik usaha. Kamu punya 5 karyawan di kantor, setiap bulan harus bayar pajak, listrik, telfon, dll. Sedangkan penghasilan usaha kamu tidaklah tetap.

Memang benar, sebagai seorang pemilik usaha kamu harus menentukan usaha kamu itu paling sedikit setiap bulan penghasilannya berapa? Intinya merencanakan jika skenario terburuk terjadi, apa yang akan kamu lakukan?

Yang ingin kukatakan sangatlah sedderhana, menjadi seorang entrepreneur memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari seorang karyawan.

Dan bukan berarti juga seorang entrepreneur memiliki penghidupan yang sudah pasti lebih baik daripada seorang karyawan.

Karena itulah aku mengatakan tidak ada yang keren dari keduanya. Hanya satu dan dua cara untuk menghidupi diri sendiri.

Jangan selalu membayangkan jika entrepreneur adalah pemiliknya Bank BCA, atau ketika kamu membayangkan seorang entrepreneur adalah Elon Musk — kurasa kamu salah besar.

Aku selalu membayangkan seorang entrepreneur adalah dia yang menjalankan bisnis kecil-kecilan. Kenapa? Karena sangat tidak realistis jika semua entrepreneur akan berhasil membeli 50% saham BCA.

Tidak semuanya akan berakhir seperti Elon Musk. Atau siapapun itu.

Faktanya, yang gagal sebenarnya lebih banyak dari yang berhasil. Nggak usah jauh-jauh, 9 dari 10 startup biasanya akan gagal. Hanya segelintir yang bertahan lama.

Di bursa IHSG aja, ada perusahaan-perusahaan yang bahkan ndak ada penghasilan sama sekali. Sudah fase pailit. Hutangnya nggak bisa bayar, sedangkan pemasukan nggak ada.

Ketika sebuah usaha itu gagal, jangka waktunya itu bukan 1–2 bulan, tetapi tahunan.

Bayangkan aja kamu sudah menghabiskan 3–5 tahun hidupmu untuk merintis sebuah perusahaan — tetapi pada akhirnya ternyata gagal.

Sudah pasti ada yang salah ketika pengeluaran > dari penghasilan setiap bulannya. Ini berlaku untuk semuanya.

Bisnis yang baik pada akhirnya adalah yang memiliki penghasilan lebih besar dari pengeluaran setiap bulannya. Meskipun memang banyak startup pada tahun-tahun pertamanya bakar duit, tapi arahnya tetap sama.

Jika kamu seorang karyawan, hal ini juga berlaku. Ada yang salah jika pengeluaran kamu > dari penghasilan. Apalagi ketika hal tersebut berlangsung selama berbulan-bulan.

Mungkin untuk menutupi kekurangan kamu, kamu meminjam orangtua, atau kerabat, atau juga teman.

Bagaimana dengan sbeuah perusahaan? Apalagi kalau modal kerjanya dari pinjam bank atau uang investor.

Nggak ada yang keren dari menjadi seorang karyawan ataupun entrepreneur. Keduanya memiliki tujuan akhir yang sama, penghasilan > pengeluaran.

Hanya saja menjadi seorang entrepreneur memiliki resiko yang jauh lebih besar.

Dari keduanya, aku kurang yakin tentang segalanya.

Mau jadi karyawan? Atau membangun sebuah bisnis?

Meskipun aku memang sadar, at this point, kurasa sumber penghidupanku adalah menciptakan oportuniti untuk diri sendiri.

Cuma ya begitu… aku belum bisa membayangkan dengan jelas bagaimana masa depanku nanti. Yang pasti, kemungkinan besar hidupku tidak akan terikat sebagai seorang pekerja kantoran.

Aku bukan orang yang bisa seenaknya datang ke orangtua untuk meminta modal usaha.

Saat ini aku masih menabung dan berusaha melipatgandakan tabunganku sendiri. Karena suatu saat aku akan menggunakan uang itu sebagai modal usahaku sendiri.

Aku sangat resah memikirkan tentang ini. Karena menjadi berhasil itu bukan memiliki rumah atau mobil mewah. Pertama-tama, menjadi berhasil adalah keluarga kita tidak menangis karena kekurangan uang.

Bisa makan dan minum setiap hari adalah sebuah keajaiban. Semenjak pandemi tahun lalu aku banyak melihat yang collapse. Ada yang sampai minjam sana-sini untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Nggak tega ngelihat hal itu terjadi di keluarga sendiri. Mau nangis rasanya.

Aku, sebagai seorang yang masih muda, suatu hari akan berada diposisi untuk menanggung keluargaku sendiri. Menggantikan posisi papa sebagai tulang punggung keluarga, dan menjadi seorang papa dari keluarga kecil yang baru.

Ngeri banget.

Apalagi mengingat persaingan menjadi semakin ketat. Terkadang merasa tidak berdaya. Cuma ya begitu… cepat atau lambat aku akan berada di posisi itu. Mau tidak mau, harus mencoba dan selalu mengharapkan yang terbaik.

Begitulah — keresahan anak muda.

Namanya juga anak muda. Tetap ingat, bisa makan dan minum serta memenuhi kebutuhan dasar kamu dan keluargamu adalah pencapaian yang luar biasa.

--

--

--

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Sean Clarence

Sean Clarence

More from Medium

Commodification or Apprenticeship: Assignments that Encourage the Alienation of Student Internal…

Thinking, Prototyping and Practice

Otherlands

THM Box: Blue