Monolog Mengenai Tuhan

Kesengsaraan dan kebahagiaan.

Photo by Jordan Wozniak on Unsplash

Tuhan itu… Ia tidak sebegitu jahat hingga memalingkan wajah-Nya daripada kesengsaraan.

Mata-Nya senantiasa melihat kebawah untuk menyaksikan.

Masakan Tuhan tidak akan menolong mereka yang sengsara?

Ada banyak kesengsaraan di dunia. Tidak kurang mereka yang bertanya, dimanakah Tuhan?

Aku tidak peduli seberapa sengsara hidupku dan seberapa tidak adilnya dunia. Mengetahui jika Tuhan melihatku adalah wujud dari kebahagiaan.

Aku pernah berkata, anak-anaknya masih SD dan SMP, mereka masih kanak-kanak.

Ayahnya terjebak hutang, tetapi masih berjuang mencari penghidupan. Seorang Ayah yang berumur 60 tahun.

Aku berkata kepada Ibuku, masakan Tuhan sebegitu jahat hingga mengambil nyawa Ayah mereka?

Ibuku berkata, huush — jangan berkata jika Tuhan itu jahat.

Keberadaan Tuhan tidak kunilai dari seberapa baik keadaanku. Keberadaan Tuhan juga bukan ketika Ia membuatku sejahtera.

Tetapi keberadaan Tuhan, untukku, bahwa Tuhan melihat kebawah- itu memberikanku sebuah harapan.

Bila yang empunya kehidupan memandangku berharga — dan itu membuatku bermpimpi untuk hari yang lebih baik.

Tuhan itu… Ia tetaplah baik meskipun aku diizinkan-Nya untuk sengsara. Ia juga sama baiknya ketika mengizinkanku untuk berbahagia.

Dan akhirnya, aku akan melupakan kesengsaraan serta kebahagiaan daripada dunia — memulai hidup yang baru tanpa mengingat apa-apa, untuk tersenyum di surga.

Di sana.

Kehidupan.

--

--

--

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Sean Clarence

Sean Clarence

More from Medium

Graphic Design Theory — Reading Response 8

FMP/ Migrant Integration — 05. Designing for a Social Context

an aSPECt of communication,

Aarogya Setu Redesign