Sean Clarence

Nov 26, 2021

2 min read

Nagaro: Sebuah Pembuka

Pecahan ketiga dari pertama

Photo by on

“Sore Kishida sensei,” sapaku kepada guru olahraga sekolah kami.

Ia selalu berdiri di depan gerbang sekolah menggenaan track suit merah seperti biasanya.

“Ah Annette! Sudah berapa banyak yang menangis karenamu mingu ini hahaha!?” Tawanya yang lebar dan keras menarik perhatian para murid yang berjalan keluar dari gedung sekolah.

“Sensei! sudah berapa kali kubilang jangan terlalu keras!”

“Cih. Biarkan saja mereka yang iri padamu itu hahahaha!!!” Bukannya mereda tetapi malah menjadi-jadi.

Terlepas dari suaranya yang keras itu — Kishida sensei memiliki tubuh yang kecil. Aku selalu tertawa di dalam hati melihat kontras wataknya dengan tubuhnya itu.

Ia adalah satu dari antara banyak guru yang menjadikan tangisan para lelaki sebagai bahan lelucon.

Yah… mungkin tidak akan pernah menjadi lelucon jika hanya 1 atau 2 orang saja yang kutolak. Bagaimana dengan puluhan orang? Kurasa sangat wajar jika dijadikan lelucon.

Wajah sensei seketika saja berubah menjadi serius, tidak lama setelah teriakannya itu.

“Annette, lebih baik kamu segera pulang ke rumah. Relakan saja beberapa minggu kedepan demi keselamatanmu sendiri.”

“Memangnya ada apa sensei? Aku masih ingin menikmati parfait di Cup o’ Mate setiap pulang sekolah…”

Tidak biasanya Kishida sensei seperti ini. Bawaannya yang sering bercanda hilang seketika. Ada apa gerangan?

“Bejanjilah untuk tidak mengatakannya kepada siapapun.”

Aku sedikit bingung dan cukup terkejut dengan pernyataan sensei.

“Kamu masih ingat dengan saudaraku itu?”

“Saudara sensei yang adalah kepala divisi investigasi kepolisian Nagaro?”

“Ya, dia mengatakan jika sejak sebulan terakhir ada 3 kasus pembunuhan yang sangat aneh. Tidak ada bekas luka pada tubuh para korban, hanya ditemukan bercak hitam di sekujur tubuh mereka.”

“Umm… bagaimana bisa aku belum mendengarnya? Apa kejadian ini tidak diliput di berita?” Tanyaku kepada sensei.

“Sstts…” Dengan jari telunjuknya sensei memintaku untuk diam.

“Pihak kepolisian memang secara sengaja tidak memberitahukan kejadian ini di media karena alasan tertentu. Sudah, yang penting kamu lekas pulang ke rumah.”

“Oke sensei… huh… parfait…”

“Jangan berwajah murung seperti itu — jika kamu tidak ada lagi disini… bagaimana aku bisa membuat lelucon hahahaha!” Sahut sensei sembari melipat tangannya.

Siapa yang tidak akan penasaran dengan alasan ketertutupan ketiga kasus pembunuhan itu… ah sudahlah… lebih baik aku menuruti nasehat Kishida sensei.

“Berhati-hatilah di jalan Annette!”

“Tenang saja sensei!” Sahutku.

Mencoba untuk mengarang sebuah pembuka — akan dilanjutkan.

Sean isn’t a name, but an idea.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.