Nagaro: Sebuah Pembuka (Chapter 1)

-09 Oktober 2015-

Pihak kepolisian setempat mengakatan jika ada kemungkinan pelaku dari tindak kejahatan tersebut adalah orang yang sama.

Aku sangat tertarik — atau harus kukatakan, mau tidak mau menjadi tertarik.

Korban pertama dari serial pembunuhan ini tidak lain adalah seorang siswi bernama Annette, kakak kelasku di Nagaro Prefectural High School.

Reputasinya terkenal baik di sekolah — ditambah dengan kecantikannya hingga dijuluki primadona oleh hampir semua murid dan guru.

Siapa sangka orang sebaik itu dapat tertimpa sial? Apakah kejadian ini adalah jawaban dari doa-doa mereka yang iri terhadap Annette?

Meskipun terkenal baik, banyak perempuan yang membenci Annette hanya karena lelaki yang mereka sukai jatuh hati pada-nya.

Hampir setiap minggu aku mendengar mereka menyatakan perasaan kepada Annette di belakang gedung sekolah.

Aku bisa mengetahui ini karena sering menghabiskan waktu rehat sekolah untuk bersantai di dekat belakang gedung. Kalian dapat dengan mudah mendengar tolakan Annette pada setiap lelaki itu dari sini.

Sekarang… apa boleh buat?

Nasib yang menimpa Annette menimbulkan luka bagi banyak orang. Demikian juga banyak yang berbela sungkawa melihat masa depan seorang gadis muda direnggut oleh maut dalam sekejap mata.

Serial pembunuhan yang terjadi membuat suasana di Nagaro menjadi tegang. Hal ini membuat pemerintah setempat memberlakukan pulang lebih awal untuk semua aktivitas demi mencegah kejadian serupa terjadi lagi.

Meskipun pada kenyataannya… serial pembunuhan ini masih berlanjut sampai sekarang.

Tidak ada bekas luka pada tubuh para korban, tetapi selalu ditemukan bercak hitam entah di bagian lengan, kaki, ataupun juga sekitar kepala.

Kepolisian setempat mengatakan jika bercak tersebut bukanlah lebam. Aku sendiri telah melihat foto yang dipublikasikan oleh media dan menyimpulkan yang sama.

Mungkin yang paling aneh dari kematian para korban adalah tidak adanya kehadiran darah pada sekujur tubuh mereka.

Awalnya pihak autopsi berasumsi jika metode yang digunakan oleh pelaku adalah racun. Sayang sekali, mereka salah, hasil lab menunjukkan sebaliknya — tidak ada racun yang ditemukan di dalam tubuh setiap korban.

Ah~~~ Kurasa aku harus berhenti sampai disini. Berjalan sembari berpikir hampir membuatku terserempet mobil.

Jam pintarku menunjukkan pukul 18:23 malam, tidakkah aku terlalu santai di tengah kehebohan yang sedang berlangsung?

Mungkin sudah 4 jam 27 menit berlalu semenjak aku berpamitan dengan Riku siang tadi.

Maklumi saja, setelah pulang sekolah aku menyempatkan diri untuk mampir ke tempat arcade langgananku.

Tempat ini masih buka meskipun ada pembatasan aktivitas oleh pemerintah, atau harus kukatakan, aku mengenal pemilik dari tempat arcade ini.

Kami sempat berbincang cukup lama tentang serial pembunuhan yang terjadi, karena itulah sepulang dari sana aku masih terus memikirkannya.

Saat ini aku sedang melewati gang kecil (alley) yang rupanya sudah tidak asing lagi. Aku selalu melewatinya untuk pulang ke rumah.

Cih. Kucing-kucing ini masih saja bertempat tinggal di gang kecil langgananku.

*Meow?*

Langit sudah gelap. Demikian juga dengan minimnya pencahayaan di sekitarku memberikan perasaan tersendiri ketika berjalan menyusuri kediaman para kucing.

*Meow?*

Tidak ada yang berbeda dengan hari kemarin. Lekas saja aku berjalan keluar menuju jalan utama.

///
-03 September 2015-

Aku tidak mengerti mengapa siswi perempuan sangat membenciku. Kelihatannya kehidupan gadis remaja yang kudambakan tidak akan terjadi di kehidupan ini.

Padahal aku sudah menolak semua lelaki… huh… susah juga kalau begini.

Mungkin dalam seminggu bisa ada 2 atau 3 orang yang menyatakan perasaannya kepadaku. Entah mereka adalah kakak kelasku, seangkatanku, ataupun adik kelasku.

Uhm… aku sebenarnya sedikit senang… tetapi… mengorbankan masa SMA yang menyenangkan hanya demi perasaan bangga semata tidak terlihat begitu bijak.

Hal ini bukan berarti aku tidak memiliki sahabat di sekolah. Ada 2 sahabat karibku yang selalu berada disampingku, mereka adalah Hina dan Yui. Juga masih ada beberapa orang yang bersikap baik selain mereka berdua.

Tetapi tetap saja… kebencian sebagian besar siswi membuat kehidupan masa SMA-Ku jauh dari yang kudambakan.

Bagaimana lagi? Aku terlahir dengan kecantikan yang melebihi wajarnya seorang manusia, seorang dewi dari langit ~~~

Lupakan :), aku hanya bercanda.

Aku sendiri mengakui jika perilaku semua lelaki itu tidaklah wajar. Apa tidak ada siswi lain di sekolah ini? Seakan-akan hanya ada aku di sekolah.

Seandainya aku berada di posisi para siswi… tentu saja aku akan membenci diriku sendiri.

Seperti kemarin saat hari Valentine, tebak saja apa yang terjadi. Aku mendapat segudang coklat dari siswa lelaki di sekolah.

Masalahnya?

Tidak ada siswi lain yang mendapatkan cokelat. Para buaya jantan itu seperti menganggap siswi lainnya bukanlah siswi.

Hmm… apa ini yang membuat mereka benci terhadapku?

Entahlah.

Segudang cokelat saat hari valentine itu kubagikan kepada para guru dan staff sekolah. Tentu saja aku memberikannya kepada Hani dan Yui juga.

Lagipula… orang seperti apa yang akan menghabiskan 10 Kg cokelat seorang diri? Nanti berat badanku bisa terusik jika melahap semua cokelat itu.

Rutinitas dan rutinitas. Sebenarnya aku sedang menunggu seseorang saat ini.

Seperti biasanya, aku akan mengatakan tidak untuk kesekian kalinya.

Wew… kenapa masih ada saja yang mengirim amplop pink di loker sepatuku?

Jujur, aku sebenarnya sudah lelah untuk menaggapi setiap surat itu… tetapi aku masih ingin menghargai mereka… jadi ya begini, rutinitas dan rutinitas.

Hmm… menunggu sembari menikmati langit sore juga sudah menjadi kebiasaanku.

?

Anak itu ada di sana lagi hari ini.

Siapa namanya…? Biar kuingat…

Oh ya, para guru memanggil dia Ian.

Lelaki pendiam yang tanpa diduga sering menjadi perbincangan para guru.

Aku tidak pernah bercakap dengannya, lebih sering melihatnya dari kejauhan.

Pernah suatu kali berpas-pasan dengan Ian — dan aku langsung bisa menebak wataknya, dia adalah lelaki datar yang selalu mengatakan,

Ah… merepotkan sekali…

Bayangkan kalian sedang membaca sebuah manga yang karakter utamanya menyaut, Mendokusai… seperti itulah impresiku terhadap Ian.

Wajah yang terlihat malas, rambut yang selalu acak-acakan, dan tentu saja cara berpakaiannya yang tidak pernah rapi. Semua ini membuatku semakin yakin akan impresi pertamaku terhadap Ian.

Sudahlah, yang pasti hari ini dia dan sebotol minuman telah melihatku untuk kesekian kalinya menolak para buaya jantan sekolah.

Hanya satu setengah tahun lagi hingga aku lulus SMA. Mau tidak mau aku sudah menerima rutinitas ini sebagai hal yang wajar kulakukan setiap hari.

Eh? Apa yang membuatku yakin jika selama satu setengah tahun kedepan aku akan memiliki rutinitas yang sama?

Duk…duk…duk…

Oke, ini dia.

“Aku menykaimu Annette!…..” Blah blah blah, seperti biasanya mereka akan berbicara panjang.

“Umm… aku mengapresiasi perasaanmu, tetapi saat ini aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun.”

“Tapi..!”

Aku sampai sudah memiliki manual sendiri yang sengaja kutulis untuk memberikan mereka jawaban.

Kau tahu… terkadang alur pembicaran bisa menjadi A, B, C, dan seterusnya. Aku menyiapkan diriku untuk memberikan jawaban terbaik sesuai dengan manual yang kubuat.

Alur pembicaraan mereka mungkin berbeda-beda, tetapi selalu berakhir dengan kalimat yang sama,

“Aku tidak akan menyerah!”

Huh… kapan mereka akan menyerah?

Aku pun segera saja berjalan menuju ke gerbang sekolah mengingat matahari yang sudah mau terbenam.

Entah kenapa Ian belum beranjak juga dari tempat langganannya itu. Sampai kapan ia akan berada disana?

Tetapi kurasa ini adalah hal yang biasa, aku memang selalu melihatnya masih bersantai setiap kali para buaya jantan melambaikan tangan mereka setelah kutolak.

Tidak lupa juga dengan satu orang yang selalu menggodaku di gerbang sekolah.

“Sore Kishida sensei,” sapaku kepada guru olahraga sekolah kami.

Ia selalu berdiri di depan gerbang sekolah mengenakan track suit merah seperti biasanya.

Terkadang aku juga bertanya apa Kishida sensei tidak memiliki track suit berwarna lain?

“Ah Annette! Sudah berapa banyak yang menangis karenamu minggu ini hahaha!?” Tawanya yang lebar dan keras menarik perhatian para murid yang berjalan keluar dari gedung sekolah.

“Sensei! sudah berapa kali kubilang jangan terlalu keras!”

“Cih. Biarkan saja mereka yang iri padamu itu hahahaha!!!” Bukannya mereda tetapi malah menjadi-jadi.

Terlepas dari suaranya yang keras itu — Kishida sensei memiliki tubuh yang kecil. Aku selalu tertawa di dalam hati melihat kontras wataknya dengan tubuhnya itu.

Ia adalah satu dari antara banyak guru yang menjadikan tangisan para buaya jantan sebagai bahan lelucon.

Yah… mungkin tidak akan pernah menjadi lelucon jika hanya 1 atau 2 orang saja yang kutolak. Bagaimana dengan puluhan orang? Kurasa sangat wajar jika dijadikan lelucon.

Wajah sensei seketika saja berubah menjadi serius tidak lama setelah teriakannya itu.

“Annette, lebih baik kamu segera pulang ke rumah. Relakan saja beberapa minggu kedepan demi keselamatanmu sendiri.”

“Memangnya ada apa sensei? Aku masih ingin menikmati parfait di KANoTORA setiap pulang sekolah…”

Tidak biasanya Kishida sensei seperti ini. Bawaannya yang sering bercanda hilang seketika. Ada apa gerangan?

“Bejanjilah untuk tidak mengatakannya kepada siapapun.”

Aku sedikit bingung dan cukup terkejut dengan pernyataan sensei.

“Kamu masih ingat dengan saudaraku itu?”

“Saudara sensei yang adalah kepala divisi investigasi kepolisian Nagaro?”

“Ya, dia mengatakan jika sejak sebulan terakhir ada 3 kasus pembunuhan yang sangat aneh. Tidak ada bekas luka pada tubuh para korban, hanya ditemukan bercak hitam di sekujur tubuh mereka.”

“Umm… bagaimana bisa aku belum mendengarnya? Apa kejadian ini tidak diliput di berita?” Tanyaku kepada sensei.

“Sstts…” Dengan jari telunjuknya sensei memintaku untuk diam.

“Pihak kepolisian memang secara sengaja tidak memberitahukan kejadian ini di media karena alasan tertentu. Sudah, yang penting kamu lekas pulang ke rumah.”

“Oke sensei… huh… parfait…”

“Jangan berwajah murung seperti itu — jika kamu tidak ada lagi disini… bagaimana aku bisa membuat lelucon hahahaha!” Sahut sensei sembari melipat tangannya.

Siapa yang tidak akan penasaran dengan alasan ketertutupan ketiga kasus pembunuhan itu… ah sudahlah… lebih baik aku menuruti nasehat Kishida sensei.

“Berhati-hatilah di jalan Annette!”

“Tenang saja sensei!” Sahutku.

///
-09 Oktober 2009-

Sudah kuduga, penerangan di jalan utama memang yang terbaik. Aku tidak perlu repot-repot menyalakan senter smartphone milikku untuk menerangi jalan seperti tadi.

Selama berada di gang kecil aku harus senantiasa menerangi sekitarku. Terkadang ada kucing hitam yang tiba-tiba saja melompat di depanku — sangat mengerikan!

Jantungku mau copot rasanya…

Karena inilah aku membenci kucing-kucing itu!

Tidak bisakah mereka menikmati tulang ikan dengan tenang? Atau mengejar tikus tanpa harus menggangguku?

Cih.

Sebenarnya aku tidak akan ingin untuk melewati gang kecil ini kalau dengan melewatinya akan memakan waktu yang sama ketika melewati jalan utama.

Hmm… apa boleh buat? Menyusuri gang ini menghemat 20 menit waktuku untuk sampai ke rumah.

Tentu saja aku juga harus menahan bau busuk dari sampah yang dibuang oleh para pemilik restoran sekitar.

Tidak ada perasaan yang lebih melegakan daripada ini! Menghirup udara segar tanpa bau busuk yang tercium!

Setelah keluar dari gang kecil tersebut aku memutar badan ke arah kiri. Rumahku sudah tidak terlalu jauh, hanya perlu berjalan lurus untuk beberapa menit saja.

Kalau sudah sampai disini biasanya aku akan membuka Pocket Novel untuk membaca web novel kesukaanku.

Akhir-akhir ini aku lebih sering menikmati genre martial arts daripada mystery thriller yang menjadi kegemaranku untuk waktu yang lama.

Aku juga suka membaca manga ataupun jenis komik lainnya, tetapi ya begitu… seandainya manga memiliki 40 chapter, sebuah web novel bisa memiliki 800 chapter.

Meskipun memang tidak bergambar…

Waktu luangku menjadi terisi dengan kegiatan yang cukup berguna, setidaknya membaca masih lebih baik daripada bermain game.

Heh.

Kalau mau dihitung, kurasa aku menghabiskan 6 jam untuk membaca web novel setiap harinya. Terus scroll ~ scroll ~ dan scroll!!

Aku terus menatap layar smartphone milikku sembari berjalan pulang ke rumah. Jempol kananku juga terus menggeser layar untuk menyelsaikan chapter demi chapter.

Hari sudah malam dan tidak ada begitu banyak orang di jalan.

Aku tidak perlu khawatir jika harus menyenggol orang ketika berjalan, bukankah tidak ada banyak orang?

Lagipula ada yang namanya… field of vision? Sederhananya merupakan rentang penglihatan seorang manusia.

Katakan saja saat ini fokus mataku tertuju pada layar smartphone, itu bukan berarti aku menjadi buta akan apa yang ada di depanku.

Hmm… kira-kira begitu.

Menjadi orang yang carefree memang menyenangkan :).

Aku terus berjalan tanpa menemukan hal yang janggal di depanku. Sebuah hari yang normal seperti hari lainnya, pikirku.

“Oh! Ternyata Lei Tianyu menjadi cultivator supreme di Gongshan Continent!”

Wew ~~~ Akhirnya aku telah menyelsaikan satu web novel lagi. Aku sudah membaca Supreme Tianyu of Hua Tong Sword sejak dua bulan lalu. Saatnya mencari judul yang baru!

Huh?

Kegiranganku berubah menjadi wajah yang penuh tanya.

Aku melihat ada seorang siswi dari sekolahku sedang berdiri di tengah jalan tidak jauh dari rumahku.

Bukankah tidak ada yang bertempat tinggal disekitar sini? Selama ini aku tidak pernah berjumpa dengan siswa maupun siswi dengan seragam sekolahku di sekitar sini.



Ah, kurasa aku tahu siapa itu —

“Jangan menggodaku seperti ini Chika!”

Keusilan kakak perempuanku memang tidak ada batasnya, cih.

Seorang wanita 20-an yang tidak malu untuk cosplay dengan baju SMA-nya dahulu.

Chika menoleh kebelakang dan meledek nyaliku seperti biasanya.

--

--

--

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Sean Clarence

Sean Clarence

More from Medium

My Thoughts (Part 1)

23rd September

This Wasn’t Part of “The Plan”

Lewis Hamilton’s supremacy in F1